
Hasil pengumuman SNPMB 2023 (Sumber foto: milik pribadi).
MarSphere - Masih teringat jelas, hari itu tepat pada 20 Juni 2023. Mata saya terpaku di layar HP, membuka laman pengumuman SNBP dengan jantung berdetak tak karuan. Di kepala saya, sudah terbayang wajah ibu yang tersenyum bangga. Tapi kenyataannya?
“Maaf Anda Dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNBP 2023.”
Saya diam. HP saya taruh pelan-pelan. Seolah dengan menolaknya, saya juga bisa menolak kenyataan. Beberapa detik kemudian, notifikasi masuk dari teman-teman. Ada yang diterima di UI, ada yang di UGM, ada pula yang langsung memasang twibbon kampusnya. Saya ikut mengucapkan selamat, tapi dalam hati terasa kosong.
Saya bukan siswa yang malas. Nilai rapor saya stabil. Rangking saya tidak jelek. Bahkan saya pernah jadi ketua kelas dan aktif organisasi. Saya pikir, itu cukup untuk membuat nama saya muncul di daftar lulus SNBP. Nyatanya, tidak. Saya mencoba tegar, pura-pura kuat, lalu bilang ke teman: “Gapapa, emang belum rezeki aja.” Tapi ketika mereka satu per satu mengumumkan kampus barunya lewat story Instagram, saya hanya bisa menonton dengan mata panas dan senyum hambar.
Saya kalah. Bukan Cuma di seleksi, tapi juga di dalam hati.
Tak butuh waktu lama untuk saya bangkit. Saya ikut bimbel, belajar tiap malam, bahkan mengurangi main HP demi SNBT. Saya yakin, ini jalur saya. Kalau bukan lewat rapor, ya lewat ujian. Saya mengerjakan soal dengan optimisme. Tangan saya gesit, otak saya fokus. Tapi, saat pengumuman SNBT keluar, saya kembali membuka laman yang sama… dan membaca kalimat yang sama:
“Maaf Anda Dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNBT SNPMB 2023”.
Dua kali ditolak oleh sistem yang katanya “seleksi terbaik untuk siswa unggulan.” Dua kali pula saya menyaksikan impian saya hancur, pelan tapi pasti. Ada perasaan malu, marah, dan kecewa yang campur aduk. Saya mulai mempertanyakan: apa yang salah? Apakah usaha saya kurang? Apakah saya memang tidak cukup pintar? Atau, apakah saya hanya sedang diuji, bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai rencana?.
Satu malam setelah pengumuman SNBT, saya menangis dalam diam. Saya merasa benar-benar sendirian. Semua usaha saya seolah sia-sia. Saya bahkan sempat tidak ingin membuka media sosial lagi karena takut melihat pencapaian orang lain. Tapi justru dari keheningan malam itu, saya menemukan sedikit keberanian untuk jujur pada diri sendiri: bahwa saya terluka, tapi saya juga masih hidup. Dan selama masih hidup, saya masih punya kesempatan untuk melanjutkan.
Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bukan guru, bukan sistem, bukan orang tua. Hanya diri saya yang harus belajar menerima: bahwa kegagalan bukan aib, tapi batu loncatan. Saya mulai bertanya ke diri sendiri, “Kenapa kamu sedih? Karena gengsi? Karena tidak bisa bilang ‘kuliah di kampus negeri’?” Jawabannya ternyata ya. Saya kecewa karena saya merasa kalah dalam perlombaan sosial. Padahal, pendidikan seharusnya bukan soal menang-kalah.
Sejak itu, saya belajar hal baru. Saya ikut webinar, ambil kursus online, dan menulis pengalaman ini untuk menyembuhkan diri sendiri. Mungkin saya belum kuliah, tapi saya tidak berhenti belajar. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri. Saya mulai menerima bahwa mungkin, jalan saya berbeda. Tapi berbeda bukan berarti buruk. Saya memilih jalur mandiri di sebuah kampus yang awalnya tidak saya lirik. Saya masuk bukan karena nilai rapor atau hasil ujian, tapi karena saya tidak menyerah.
Kini, saya tahu: gagal SNBP dan SNBT bukan akhir. Bahkan bisa jadi itu awal dari versi saya yang lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih mengerti bahwa hidup tidak selalu linear. Saya belajar banyak dari gagal: tentang sabar, tentang bangkit, tentang tidak membandingkan hidup sendiri dengan orang lain.
Mungkin tak ada orang yang merayakan kegagalan. Tapi hari ini, saya ingin mengenangnya sebagai momen yang membentuk saya. Karena di balik rasa malu dan kecewa itu, tumbuh tekad baru yang lebih kuat dari sebelumnya.
Saya pernah ditolak. Tapi saya tidak berhenti.
“Maaf Anda Dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNBP 2023.”
Saya diam. HP saya taruh pelan-pelan. Seolah dengan menolaknya, saya juga bisa menolak kenyataan. Beberapa detik kemudian, notifikasi masuk dari teman-teman. Ada yang diterima di UI, ada yang di UGM, ada pula yang langsung memasang twibbon kampusnya. Saya ikut mengucapkan selamat, tapi dalam hati terasa kosong.
Saya bukan siswa yang malas. Nilai rapor saya stabil. Rangking saya tidak jelek. Bahkan saya pernah jadi ketua kelas dan aktif organisasi. Saya pikir, itu cukup untuk membuat nama saya muncul di daftar lulus SNBP. Nyatanya, tidak. Saya mencoba tegar, pura-pura kuat, lalu bilang ke teman: “Gapapa, emang belum rezeki aja.” Tapi ketika mereka satu per satu mengumumkan kampus barunya lewat story Instagram, saya hanya bisa menonton dengan mata panas dan senyum hambar.
Saya kalah. Bukan Cuma di seleksi, tapi juga di dalam hati.
Tak butuh waktu lama untuk saya bangkit. Saya ikut bimbel, belajar tiap malam, bahkan mengurangi main HP demi SNBT. Saya yakin, ini jalur saya. Kalau bukan lewat rapor, ya lewat ujian. Saya mengerjakan soal dengan optimisme. Tangan saya gesit, otak saya fokus. Tapi, saat pengumuman SNBT keluar, saya kembali membuka laman yang sama… dan membaca kalimat yang sama:
“Maaf Anda Dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNBT SNPMB 2023”.
Dua kali ditolak oleh sistem yang katanya “seleksi terbaik untuk siswa unggulan.” Dua kali pula saya menyaksikan impian saya hancur, pelan tapi pasti. Ada perasaan malu, marah, dan kecewa yang campur aduk. Saya mulai mempertanyakan: apa yang salah? Apakah usaha saya kurang? Apakah saya memang tidak cukup pintar? Atau, apakah saya hanya sedang diuji, bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai rencana?.
Satu malam setelah pengumuman SNBT, saya menangis dalam diam. Saya merasa benar-benar sendirian. Semua usaha saya seolah sia-sia. Saya bahkan sempat tidak ingin membuka media sosial lagi karena takut melihat pencapaian orang lain. Tapi justru dari keheningan malam itu, saya menemukan sedikit keberanian untuk jujur pada diri sendiri: bahwa saya terluka, tapi saya juga masih hidup. Dan selama masih hidup, saya masih punya kesempatan untuk melanjutkan.
Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bukan guru, bukan sistem, bukan orang tua. Hanya diri saya yang harus belajar menerima: bahwa kegagalan bukan aib, tapi batu loncatan. Saya mulai bertanya ke diri sendiri, “Kenapa kamu sedih? Karena gengsi? Karena tidak bisa bilang ‘kuliah di kampus negeri’?” Jawabannya ternyata ya. Saya kecewa karena saya merasa kalah dalam perlombaan sosial. Padahal, pendidikan seharusnya bukan soal menang-kalah.
Sejak itu, saya belajar hal baru. Saya ikut webinar, ambil kursus online, dan menulis pengalaman ini untuk menyembuhkan diri sendiri. Mungkin saya belum kuliah, tapi saya tidak berhenti belajar. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri. Saya mulai menerima bahwa mungkin, jalan saya berbeda. Tapi berbeda bukan berarti buruk. Saya memilih jalur mandiri di sebuah kampus yang awalnya tidak saya lirik. Saya masuk bukan karena nilai rapor atau hasil ujian, tapi karena saya tidak menyerah.
Kini, saya tahu: gagal SNBP dan SNBT bukan akhir. Bahkan bisa jadi itu awal dari versi saya yang lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih mengerti bahwa hidup tidak selalu linear. Saya belajar banyak dari gagal: tentang sabar, tentang bangkit, tentang tidak membandingkan hidup sendiri dengan orang lain.
Mungkin tak ada orang yang merayakan kegagalan. Tapi hari ini, saya ingin mengenangnya sebagai momen yang membentuk saya. Karena di balik rasa malu dan kecewa itu, tumbuh tekad baru yang lebih kuat dari sebelumnya.
Saya pernah ditolak. Tapi saya tidak berhenti.
0 Komentar