Pestapora 2025 dipenuhi sorotan publik usai menuai kontroversi di tengah antusiasme penonton (Sumber foto: beautynesia).

MarSphere - Isu mulai mencuat ketika akun resmi Pestapora mengumumkan kerja sama dengan Freeport, yang langsung memicu aksi boikot dari lebih dari 20 musisi dan band besar. Di antara yang mundur adalah .Feast, Hindia, Sukatani, Leipzig, The Jeblogs, Cloudburst, Kelelawar Malam, sampai Filler. Puluhan band dan musisi ini memilih membatalkan penampilan mereka sebagai langkah solidaritas sekaligus protes terhadap sponsor yang dianggap kontroversial dan bertentangan dengan etika industri hiburan.

Menanggapi tekanan tersebut, pada 6 September 2025 penyelenggara yang diwakili Direktur Festival Kiki Aulia Ucup mengumumkan pemutusan kontrak kerja sama dengan PT Freeport Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa dana sponsor tersebut tidak masuk ke kas festival dan menjamin kelangsungan Pestapora tetap berjalan dengan line-up yang diperbarui.

Kontroversi ini memunculkan perdebatan luas antara integritas seni dan pragmatisme finansial, sekaligus menyoroti bagaimana industri kreatif harus lebih kritis dalam memilih sponsor. Banyak pihak menilai festival musik, seharusnya menjadi ruang netral yang mendukung kebebasan berekspresi, namun pada kenyataannya bisa menjadi media artwashing oleh perusahaan-perusahaan dengan reputasi buruk.

Gelombang mundurnya musisi dan protes publik memberikan pesan kuat bagi penyelenggara dan pelaku industri kreatif untuk lebih berhati-hati memilih mitra bisnis ke depan demi menjaga kepercayaan dan citra positif.

Meski kontroversi mewarnai, Pestapora 2025 tetap menjadi acara musik yang dinantikan. Beberapa musisi dan band masih tampil dengan mempertimbangkan situasi ini, sementara publik terus mengamati bagaimana festival ini menyeimbangkan hiburan dan etika sosial.