Ilustrasi gaya kerja Gen Z dengan suasana santai dan tetap produktif (Sumber foto: pexels.com).
Menurut survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2024, lebih dari 46% Gen Z di seluruh dunia menilai work-life balance sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan. Hal ini menandakan pergeseran paradigma, dari sekadar mengejar prestasi kerja ke arah kehidupan yang lebih seimbang. Di Indonesia, riset Katadata Insight Center 2023 menunjukkan sekitar 52% pekerja muda menganggap fleksibilitas waktu lebih penting dibandingkan gaji tinggi.
Tren Fleksibilitas dan Remote Working
Pandemi mempercepat adopsi kerja fleksibel. Survei McKinsey (2023) mencatat 87% anak muda usia kerja memilih opsi remote atau hybrid jika tersedia. Di Indonesia, tren ini terlihat dari semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid, terutama di sektor kreatif, teknologi, dan media. Fleksibilitas dianggap penting agar pekerja bisa tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Data Kesehatan Mental Pekerja Muda
Laporan Mercer (2023) menemukan bahwa hampir 59% Gen Z merasa burnout akibat tekanan kerja berlebihan. Sementara itu, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mengungkapkan bahwa angka stres kerja di kalangan pekerja muda meningkat 12% dibanding lima tahun lalu. Kondisi ini mendorong Gen Z untuk lebih vokal menuntut lingkungan kerja yang sehat.
Perusahaan Mulai Beradaptasi
Beberapa perusahaan di Indonesia mulai merespons tuntutan Gen Z dengan kebijakan jam kerja fleksibel, cuti tambahan untuk kesehatan mental, hingga ruang kerja santai. Langkah ini bukan hanya strategi retensi talenta, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga produktivitas.
1 Komentar
setujuu bgt lagii...
BalasHapus