Banjir melanda Bali (kiri) dan Bekasi (kanan), aktivitas warga pun terdampak (Sumber foto: detik.com).
BMKG mencatat bahwa curah hujan pada puncaknya mencapai antara 200–385 mm dalam satu hari, jauh melampaui ambang batas hujan ekstrem (150 mm)
Selain curah hujan ekstrem, drainase yang buruk dan alih fungsi lahan di perkotaan disebut memperparah luapan air. Pemerintah daerah mendirikan posko bantuan dan mengevakuasi warga menggunakan perahu karet.
Sementara itu, banjir besar juga pernah melanda Bekasi pada Maret 2025. Hujan deras berhari-hari membuat Kali Bekasi dan Sungai Cileungsi meluap, merendam permukiman di 8 kecamatan dengan 132 titik banjir.
BNPB mencatat lebih dari 37.000 kepala keluarga terdampak, sementara Pemkot Bekasi melaporkan total 61 ribu jiwa harus mengungsi dari rumah mereka.
"Setiap lima tahun pasti kena banjir. Tahun 2016, 2020 dan paling baru 2025 ini," papar warga Perumahan Jaka Kencana.
Banjir di Bekasi melumpuhkan jalan utama, membuat sekolah diliburkan, dan listrik di beberapa kawasan dipadamkan untuk mencegah korsleting.
Meski waktunya berbeda, banjir di Bali dan Bekasi menunjukkan pola yang sama: curah hujan ekstrem bertemu dengan lemahnya tata kelola lingkungan. Bali yang jarang dilanda banjir besar tampak belum siap secara infrastruktur, sementara Bekasi yang sudah sering menghadapi banjir tetap kewalahan karena padatnya permukiman di bantaran kali.
Banjir Bali dan Bekasi adalah peringatan nyata bahwa krisis iklim makin memperparah risiko bencana di Indonesia. Air akan surut, tetapi trauma warga dan kerugian ekonomi sulit dipulihkan cepat.
0 Komentar