Potret aksi massa: demonstrasi di Nepal (kiri) dan demonstrasi di Indonesia (kanan). (Sumber foto: CNBC Indonesia).
"I want the youth who have gone abroad to return to Nepal, and I hope the days ahead will be better than the past," kata Sunita Khadka, salah seorang mahasiswa aksi massa.
Aksi yang awalnya damai berubah ricuh. Gas air mata, peluru karet, dan api yang membakar gedung pemerintahan menjadi pemandangan sehari-hari di Kathmandu. Menurut laporan resmi, sedikitnya 72 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka. Tekanan massa akhirnya membuat Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mengundurkan diri. Pemerintah sementara dibentuk, dan larangan media sosial pun dicabut.
Gelombang protes di Nepal memunculkan ingatan pada masyarakat Indonesia tentang aksi besar Agustus 2025. Bedanya, di Indonesia pemicu utama adalah tunjangan fantastis anggota DPR yang dinilai tidak masuk akal di tengah krisis ekonomi dan harga kebutuhan pokok yang terus naik.
"Kami ingin mencari keadilan, bukan permasalahan," kata Siti Aisyah, salah seorang mahasiswa yang mengikuti aksi massa.
Ribuan mahasiswa, buruh, hingga pengemudi ojek online berbondong-bondong memenuhi jalanan di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Spanduk menuntut penghapusan tunjangan DPR dan perbaikan ekonomi membanjiri depan gedung parlemen. Bentrok dengan aparat tak terhindarkan, korban jiwa tercatat 6–10 orang, sementara ratusan lainnya luka-luka. Beberapa gedung pemerintah daerah juga rusak akibat lemparan batu dan aksi pembakaran ban.
Meski berbeda latar belakang, kedua aksi massa itu memiliki benang merah yang sama: generasi muda menjadi penggerak utama perubahan. Di Nepal, suara Gen Z begitu lantang hingga berhasil memaksa perdana menteri turun dan merombak pemerintahan. Sementara di Indonesia, meski belum menghasilkan perubahan struktural besar, aksi mahasiswa membuat pemerintah berjanji mengevaluasi tunjangan DPR dan membuka ruang dialog.
Analis politik dari Universitas Delhi, Rajesh Kumar, menilai bahwa fenomena ini adalah tanda demokrasi masih hidup.
Demo di Nepal dan Indonesia menunjukkan bahwa keresahan publik tak bisa dibungkam. Media sosial bisa dibatasi, anggaran pejabat bisa dipertahankan, namun suara rakyat selalu menemukan jalannya.
Ketika generasi muda berdiri di garis depan, perubahan cepat atau lambat, hanya tinggal menunggu waktu.
0 Komentar